twitter rss

Tingkatkan Gairah Bercinta dengan Air Mineral

Label:

      Minum air mineral sehari delapan gelas memang sangat dianjurkan. Hal ini tentu memiliki manfaat yang banyak bagi tubuh Anda. Berdasarkan penelitian dari Universitas John Hopkins, Amerika Serikat, dengan mengkonsumsi air putih dapat membuat gaya hidup lebih sehat serta kehidupan seks lebih hebat. Selain itu, air mineral juga berguna untuk menyeimbangkan diet serta meningkatkan kesehatan jantung.
      Perlu Anda ketahui, jika kekurangan cairan dalam tubuh maka dapat menimbulkan banyak penyakit, bisa seperti yang Anda rasakan saat mengalami keletihan. Dengan Anda mengalami hal tersebut, maka dapat membuat kehidupan seks Anda terlupakan dan Anda lebih memilih untuk tidur. Tidak sedikit hal tersebut dialami oleh sebagian orang yang kehilangan gairah seksnya karena keletihan.
      Oleh karena itu, konsumsilah air putih secukupnya agar hal di atas tidak terjadi pada Anda. Adapun manfaat air putih bagi kelangsungan bercinta sangat banyak manfaatnya. Tak hanya itu, dengan mengkonsumsi air putih yang cukup akan menyeimbangkan tekanan darah serta melancarkan alirah darah dalam tubuh. Jika hal tersebut tidak direalisasikan pada kaum pria, maka akan menyebabkan gangguan ereksi. Sedangkan pada kaum wanita, bila mengkonsumsi air mineral yang cukup maka dapat melancarkan saluran kencing dan jantung yang sangat penting bagi kesehatan organ reproduksinya.
      Air putih tidak hanya baik untuk diminum saja. Selain memiliki manfaat untuk organ tubuh, air juga dapat meningkatkan produksi hormon testosteron pada pria serta estrogen pada wanita. Hal ini berdasarkan riset yang dilakukan di London, jika mandi menggunakan air dingin di pagi hari. Oleh karena itu, kesuburan pada reproduksi pria dan wanita semakin bergairah dan meningkat.

Penyebab Dehidrasi pada Remaja

Label:
      Studi terbaru menunjukkan 46,1% orang Indonesia mengalami penyebab dehidrasi ringan. Penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor, Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin, Makasar, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya, yang melibatkan 1.200 responden berusia 15-55 tahun. Survei dilakukan di enam kota yang terletak di daerah dataran tinggi dan rendah Indonesia, yaitu Jakarta, Lembang, Surabaya, Malang, Makasar, dan Malino.
      Diketahui dari hasil penelitian, 46,1% mengalami dehidrasi dengan presentasi remaja lebih besar, yaitu sekitar 49,5%. Persentase ini lebih besar dibandingkan penduduk yang tinggal di dataran rendah seperti Jakarta, Surabaya, dan Makasar. Banyaknya aktivitas fisik yang dilakukan remaja menjadikan usia remaja lebih mudah terkena dehidrasi, selain itu 46-82% responden menjawab tidak mengerti manfaat air bagi tubuh berikut gejala dan akibat dehidrasi.
      Tingkat dehidrasi pun semakin memburuk dengan kurangnya akses terhadap air minum yang aman dan bermutu serta faktor lingkungan sekitarnya. Peningkatan pengetahuan dan mengubah perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi air pun perlu dilakukan. Selain itu, pemerintah sebenarnya memiliki program Pedoman Umum Gizi Seimbang yang menyertakan pentingnya air minum, bagian dari kecukupan gizi untuk tubuh sehat. Namun, sayangnya program ini kurang disosialisasikan mengingat manusia sangat membutuhkan air.
      Dehidrasi merupakan kondisi tubuh kekurangan cairan karena jumlah cairan yang keluar lebih banyak dibandingkan jumlah cairan yang masuk. Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis, yaitu dehidrasi ringan (penurunan cairan tubuh sekita 1-2% dari berat badan), dehidrasi sedang (penurunan cairan tubuh antara 5-10% dari berat badan), dan dehidrasi berat (kondisi penurunan cairan tubuh lebih dari 10% dari berat badan). Penyebab dehidrasi bisa karena menurunnya stamina dan produktivitas kerja, dan gangguan dalam fungsi otak, termasuk menurunnya konsentrasi dan kemampuan berpikir, bahkan kekurangan satu persen air saja mampu menyebabkan gangguan mengingat.

adidas F50 AdiZero Teringan Sedunia

adidas kembali memperkenalkan inovasi terbarunya berupa sepatu sepak bola teringan di dunia, F50 adiZero. Sepatu yang dirancang adidas ini memiliki bobot "hanya" 165 gr.
F50 adiZero menggunakan teknologi dengan bahan SprintSkin terbaru yang diciptakan menggunakan lapisan sintetis Microfibre Polyurethane, sehingga mampu mengurangi berat keseluruhan dan memastikan bahwa sepatu ini dapat pas dan nyaman dengan kaki para pemain layaknya kulit kedua.
Selain itu, F50 adiZero juga menerapkan teknologi parallel lacing asimetris yang mampu menciptakan landasan menendang yang lebar dan bebas untuk menghasilkan kontak dengan bola secara optimal. Pada F50 adiZero juga terdapat Ultra Light insole berlubang-lubang yang dikembangkan untuk meningkatkan kecepatan serta mengurangi beban.
by Nicholas Deleon on May 11, 2010

Teknologi outsole Sprint Frame eksklusif yang dirangkai dengan three-dimensional bridges untuk stabilitas, ousole berbentuk konfigurasi segitiga revolusioner, serta penggunaan bahan Thermo Polyurethane tersaji dalam sepatu F50 adiZero.
Pengembangan sepatu sepak bola teringan di dunia saat ini tidak sepenuhnya dilakukan oleh adidas. Pihak adidas menyatakan jika terciptanya sepatu F50 adiZero merupakan kerjasama antara adidas dengan Lionel Messi, David Villa serta beberapa pemain amatir dunia.
"Pemain seperti Lionel Messi dan David Villa secara konsisten mengatakan kepada kami, bahwa mereka menginginkan sebuah sepatu yang memungkinkan mereka untuk bergerak lebih cepat. Setiap pemain ingin menjadi pemenang dalam permainan sepakbola, sehingga, kami memutuskan untuk menjawab keinginan para pemain dengan menciptakan produk sepatu dengan bobot ringan yang dapat digunakan saat puncak performa," tutur Audrey Dolan, Global Senior Product Manager adidas Football.
Peluncuran F50 adiZero ini, pertama kali diluncurkan di Spanyol oleh pihak adidas bersama Messi dan Villa. Messi dipastikan akan tampil menggunakan sepatu adidas F50 adiZero berwarna camelion khusus untuknya pada Piala Dunia 2010.
)

Buktikan Keslian Power Balance Mu

semua data didapat langsung dari orang dalam produksi power balance di USA, distributor resmi PB di Indonesia dan hasil riset.
apa sih sebenarnya power balance itu?
Power Balace adalah frekuensi lemah dan data biologis yang terprogram ke dalam media holografis (hologram).Teknologi ini di desain untuk beresonansi dengan medan biologis tubuh , energi dalam atau chi sehingga meningkatkan efisiensi sistem elektronik ,kimia,dan organik tubuh anda.
darimana asal power balance?
power balance dan variannya berasal dari USA (amerika)
http://www.powerbalance.com/
nah menyikapi begitu banyaknya harga jual power balance yang sangat variatif atau bahkan jauh lebih murah dari harga distributor.
thread ini berawal dari keingintahuan saya, dan kerugian yang saya alami, karena membeli power balance yang tidak asli, alias palsu alias KW… entah KW super atau KW odong-odong..

langsung saja ,

kalau secara fisik perbedaan bungkus memang sangat sulit dibedakan, pada belakang kedua bungkus akan tetap tampak sama, yaitu “embedded in the USA” dan “Made in china”.
mau ditutup barcode atau harga atau apapun, kalau disingkap tampilan akan sama. yang membedakan adalah barang yang asli akan keluar untuk produksi langsung dari USA. BUKAN china! (narasumber: orang dalam produksi power balance di USA)

kalau dari dalam bungkus akan makin terlihat perbedaannya, yaitu PB asli akan memiliki warna hitam dan abu-abu, sedangkan yang palsu akan memiliki warna hitam dan biru muda.
(nara sumber : orang dalam di US, beli PB asli dan PB palsu)
berikut saya buktikan dengan berkunjung ke “POINT BREAK world” di mall kelapa gading III lantai2.
mereka adalah salah satu distributor resmi PB. (silahkan cek ke TKP kalau tidak percaya)
perhatikan warna cover dalam yang asli di point break (warna hitam & abu-abu)

dan yang paling jelas adalah pada PB itu sendiri.
secara fisik hologram akan terlihat sama, tapi jelas penempatan tulisan “performance technology” yang berbeda.
PB asli akan memulai penempatan tulisan persis dibawah titik
PB palsu akan memulai persis dibawah huruf “R” pada kata power.
berikut penampakan pada distributor PB di point break
berikut saya komparasi dengan PB palsu yang saya bawa ke point break

dan yang terakhir adalah perbedaan warna yang mencolok dan bahan.
PB asli akan terlihat lebih solid warnanya dan berbahan tebal
PB palsu akan lebih muda/pudar dan terkadang berbahan tipis.
berikut penampakan dari komparasi warna PB di point break

demikian kiranya dapat menjawab semua pertanyaan dan keragua-raguan.. akan ORIGINALITAS PB yang anda miliki atau jual.

Ilmuwan Temukan Tata Surya Baru

LONDON - Ditemukan sebuah sistem tata surya baru yang berisi tujuh planet dengan jarak 127 tahun cahaya dari Bumi. Sistem tata surya ini dipercaya oleh para ilmuwan sebagai yang terbesar sesudah matahari.

"Kami telah menemukan bahwa tata-surya tersebut sama seperti tata surya pada umumnya," kata Dr. Christope Lovis, ilmuwan dari European Southern Observatory (ESO), seperti dikutip melalui Telegraph, Rabu (25/8/2010).

 
Awalnya, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa ada lima planet di tata surya tersebut, namun kemudian setelah dianalisa ternyata ada dua planet lagi. Jarak antara planet-planet tersebut dengan bintangnya juga sama seperti tata surya kita.

"Penemuan yang luar biasa ini juga menunjukkan bahwa kita kini memasuki era penelitian exoplanet, studi mengenai sistem planet-planet. Pembelajaran mengenai pergerakan planet pada orbitnya memberitahukan kepada kita mengenai proses evolusi dari tata surya tersebut," tambah Lovis.

Bintang dari tata surya tersebut, bernama HD 10180, berada di selatan konstelasi Hydrus dengan jarak 127 tahun cahaya dari Bumi.

Para astronom dengan sabar mempelajari selama enam tahun dengan menggunakan alat HARPS spectograph, yang dipasang pada teleskop ESO di La Silla, Chilli.

Planet-planet di tata surya ini berukuran 13 sampai 25 kali dari bumi. Dengan waktu orbit selama 600 hari.

Dr Lovis mengatakan, mereka juga sedang meneliti dua planet dari ketujuh planet yang ada di tata surya tersebut. Yang satu berukuran seperti planet Saturnus, yang satu lagi berukuran hampir sama seperti bumi.

Sampai saat ini para astronom telah menemukan 15 tata surya yang memiliki setidaknya tiga planet. Yang terakhir adalah 55 Calibri, sebuah tata surya yang terdiri dari dua matahari dan lima planet.
(okezone.com)

Melawan Global Warming

Pemanasan global atau yang populer dengan istilah Global Warming (GW)
menjadi salah satu isu paling hangat di seluruh dunia belakangan ini. Konferensi
Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim
atau UNFCCC yang dilangsungkan di Bali akhir tahun lalu merupakan salah satu bukti
keseriusan isu ini. Konferensi yang berlangsung selama hampir dua minggu tersebut
berhasil menyepakati Bali Roadmap yang akan mengantarkan Planet Bumi untuk
menghadapi dan terutama melawan GW. 
GW memiliki dampak yang sangat luas. Tentu tidak cukup tempat untuk membahas
semuanya dalam tulisan ini, karenanya saya akan memfokuskan pada satu masalah saja.
Bagaimana dampak GW terhadap kedaulatan, teruma ketika dikaitkan dengan
peningkatan tinggi muka laut yang memengaruhi kondisi pulau-pulau, yurisdiksi wilayah
maritim dan batas maritim suatu negara pantai dengan negara tetangganya?
Memahami Kepulauan Indonesia dan Batas Maritimnya
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan berbatasan
dengan sepuluh negara tetangga yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam,
Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia dan Timor Leste. Dengan kesepuluh negara
tersebut, Indonesia berbatasan maritim dan sekaligus berbatasan darat dengan tiga
diantaranya yaitu Malaysia (di Kalimantan), Papua Nugini dan Timor Leste seperti
terlihat pada Gambar 1.



Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak pulau kecil. Menurut Undang-
undang No. 27/2007, ada 92 pulau kecil yang menjadi bagian dari Kepulauan Indonesia.
Bagi Indonesia, pulau-pulau kecil, terutama yang berlokasi di pinggir kepulauan (pulau
terluar) memiliki nilai strategis. Pada pulau-pulau terluar inilah ditempatkan titik-titik
pangkal yang membentuk garis pangkal kepulauan. Garis pangkal ini melingkupi seluruh
Kepulauan Indonesia dan merupakan acuan untuk mengukur lebar wilayah maritim
Indonesia (lihat Gambar 2), baik itu laut teritorial (12 mil laut dari garis pangkal), zona
tambahan (24 mil laut), zona ekonomi eksklusif (200 mil laut) dan landas kontinen
(hingga 350 mil laut atau lebih). Garis pangkal ini juga menjadi referensi dalam menentukan garis batas maritim dengan negara tetangga jika terjadi sengketa atau
tumpang tindih klaim.



GW dan Tenggelamnya Pulau-pulau
Berbagai pihak telah memublikasikan temuannya terkait meningkatnya suhu Bumi yang
menyebabkan meningkatnya tingi muka laut. Data yang dilansir PBB dalam website
resmi perubahan iklim menyatakan bahwa selama abad 20, peningkatan suhu global
mencapai 0,74°C. Jika konsentrasi karbon dioksida tetap pada angka 550 ppm (parts per
million) maka peningkatan suhu bisa mencapai 2 - 4,5°C, dengan perkiraan terbaik
sebesar 3°C. Dengan kata lain, jika penurunan emisi karbon dioksida tidak dilakukan
dengan sungguh-sungguh maka peningkatan suhu yang drastis tidak bisa dihindarkan.
Fenomena lain yang teramati sebagai dampak pemanasan global adalah mencairnya es di
kutub. Telah terbukti bahwa tutupan es di Antartika (Kutub Selatan) dan Greenland
(Kutub Utara) berkurang massanya akibat pelelehan. Hal ini meningkatkan tinggi muka
laut yang mencapai 17 cm selama abad 20. Dengan kondisi yang ada sekarang, dapat
diperkirakan bahwa peningkatan tinggi muka laut di akhir abad ke-21 dapat mencapai
angka 28-58 cm. 
Salah satu akibat meningkatnya tinggi muka laut adalah tenggelamnya pulau-pulau kecil
atau dataran rendah. Kawasan di Kepulauan Pasifik adalah yang selama ini diduga akan
terkena dampak GW paling awal. Kiribati, misalnya, adalah salah satu negara kecil di
kawasan Pasifik yang merasakan kekhawatiran tersebut. Presidennya, Anote Tong,
mengungkapkan dalam Forum Tahunan Pacific Selatan di Fiji (2006) bahwa dengan
tenggelamnya pulau-pulau dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, merea harus
segera mencari tempat untuk mengungsi. Negara di kawasan Pasifik yang juga rawan kena dampak GW adalah Vanuatu, Marshall
Islands, Tuvalu, dan sebagian Papua Nugini. Satu desa di Pulau Tegua, Vanuatu,
misalnya, dipaksa untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi akibat banjir karena
meningkatnya tinggi gelombang laut. Sebagai konsekuensi terjadinya pengungsian,
Australia dan Selandia Baru diperkirakan akan menjadi tujuan pengungsi utama
mengingat lokasinya paling dekat dengan negara-negara kecil di kawasan Pasifik.
Sementara itu, di Indonesia berkembang berita yang lebih dramatis. Indonesia
diperkirakan akan kehilangan 2.000 pulau pada tahun 2030 akibat GW. Kabar ini
sesungguhnya tidak bisa dipercaya begiu saja karena beredar lewat media informal dan
tidak dikeluarkan oleh institusi resmi. Meski demikian, salah satu pernyatan formal
diungkapkan oleh Kepala BMG Yogyakarta, Jaya Murjaya dalam Seminar Nasional
Geografi di Universitas Negeri Yogyakarta bulan Mei 2007. Ketika dikonfirmasi secara
personal, Murjaya mengungkapkan bahwa pernyataan itu juga dikutip dari berbagai
sumber. Dengan kata lain, ini bukan hasil kajian Murjaya maupun BMG. Murjaya juga
mengungkapkan prediksi peningkatan tinggi muka laut dapat mencapai 29 cm tahun
2030. Idealnya, kesimpulan tenggelamnya pulau ini harus didukung data yang
menyatakan bahwa terdapat 2.000 pulau di Indonesia yang berketinggian kurang dari 29
cm di atas permukaan laut saat pasang tertinggi. Pernyataan ini tentunya memerlukan
penelitian dan diskusi lebih lanjut.
Meskipun jumlah pulau Indonesia yang akan tenggelam akibat GW tidak bisa diprediksi
dengan mudah, kenyataan bahwa tinggi muka laut terus meningkat memang dapat
mengakibatkan hilangnya pulau. Hilangnya pulau kecil terluar akan mengubah garis
pangkal yang akhirnya memengaruhi status dan luas wilayah maritim Indonesia (lihat
Gambar 2). Ini adalah persoalan serius yang merupakan ancaman atas kedaulatan
(sovereignty, terkait hilangnya pulau) dan hak berdaulat (sovereign rights, terkait wilayah
maritim). 
Perlu Khawatir atau Tidak?
Meskipun segala berita tentang GW terkait peningkatan tinggi muka laut dan hilangnya
perlu diperhatikan, kehati-hatian tetap diperlukan untuk menghindari salah pengertian.
Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah definisi pulau menurut Konvensi PBB
tentang Hukum Laut (UNCLOS). Pada pasal 121 UNCLOS, dinyatakan bahwa sebuah
pulau harus terbentuk secara alami, dikelilingi oleh air dan berada di atas permukaan laut
ketika pasang tertinggi. Syarat terakhir terkait dengan disiplin geodesi. Hal ini
mengindikasikan bahwa pulau harus selalu berada di atas permukaan laut, apapun yang
terjadi, berapapun tinggi permukaan lautnya. Artinya, dalam mendefinisikan pulau atau
sebelum menyatakan pulau hilang, harus ada pemahaman pasang surut laut (pasut) secara
seksama.
Pemantauan pulau dengan teknologi penginderaan jauh melalui interpretasi citra satelit,
misalnya, memiliki risiko yang harus dipahami dengan baik. Salah satu risikonya adalah
penggunaan citra yang direkam pada saat air surut terendah. Akibatnya, sangat mungkin
ada obyek geografi di tengah laut yang terlihat pada citra satelit seperti pulau, padahal
obyek geografi tersebut bisa saja tenggelam ketika air pasang tertinggi. Obyek semacam ini tidak bisa dikatakan pulau. Kurangnya pemahaman akan hal ini dapat mengakibatkan
kesalahan dalam mencermati fenomena naiknya tinggi muka laut dan tenggelamnya
pulau.
Hal lain sehubungan dengan dampak GW adalah batas maritim dengan negara tetangga.
Perubahan tinggi muka laut memang dapat mengubah konfigurasi garis pantai yang pada
akhirnya mengubah garis pangkal. Perubahan garis pangkal dapat mengakibatkan
perubahan klaim maritim tetapi TIDAK akan berpengaruh pada garis batas maritim yang
SUDAH ditetapkan dalam traktat (perjanjian). Hal ini sesuai dengan ketentuan Vienna
Convention on the Law of Treaties 1969, yang mengecualikan traktat batas [maritim]
dalam hal perubahan/pembatalan. Ketentuan lain yang mendukug hal ini adalah Vienna
Convention on Succession of States in Respect of Treaties 1978. 
Di Selat Malaka, misalnya, Indonesia sudah menyepakati batas dasar laut dengan
Malaysia. Garis batas ini tidak akan terpengaruh oleh perubahan garis pantai/garis
pangkal akibat GW. Meski demikian, perubahan garis pangkal semacam ini tentu saja
dapat memengaruhi penentuan garis batas maritim yang belum disepakati, seperti
penetapan batas zona ekonomi eksklusif di Selat Malaka. Sederhananya, perubahan garis
pangkal dapat berpengaruh pada garis batas yang akan disepakati di masa depan, tetapi
tidak berpengaruh pada garis batas yang sudah ada saat ini. 
Bagaimana Melawan GW?
Ada banyak sekali alasan untuk melawan GW, walaupun jelas tidaklah mudah. Dalam
konteks negara kepulauan seperti Indonesia, menjaga kedaulatan adalah salah satu
alasannya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana melawan GW? Bisakah fenomena global
yang menyangkut kehidupan seluruh Planet Bumi ini dipengaruhi atau diperbaiki oleh
tindakan individu? Memang harus diakui bahwa perubahan di tingkat penggunaan energi
dunia adalah kunci dalam melawan GW. Sayangnya hal ini tidak berada di tangan orang
kebanyakan melainkan pada kekuatan sekelompok elit di dunia. 
Yang bisa saya dan Anda lakukan adalah berbuat hal kecil yang nyata. Saya teringat puisi
Taufik Ismail yang pernah dikirimkan seorang kawan. Memang ada kalanya kita tidak
bisa menjadi beringin. Setidaknya kita bisa menjadi belukar yang tumbuh di tepi danau
atau bahkan rumput, tetapi rumput yang menguatkan tanggul jalan. Meski tidak bisa
seperti Andrew Shepherd di film The American President yang dengan lantang
mengatakan bahwa Gedung Putih akan mengirim Resolusi 455 kepada Kongres yang
mensyaratkan pengurangan 20% emisi minyak fosil dalam 10 tahun, setidaknya saya bisa
menolak tas plastik ketika membeli sebuah buku. Tindakan sederhana ini tidak akan serta
merta menghentikan GW, tetapi seperti kata Dewi Lestari, dia bisa saja menjadi bola
salju yang semakin besar dan memberi pengaruh melebihi yang pernah saya dan Anda
bayangkan. Apa yang sudah Anda lakukan untuk melawan GW hari ini?
Penulis adalah dosen Teknik Geodesi UGM, pemerhati isu batas maritim, peneliti United Nations bidang
ocean affairs and the law of the sea (2007). Tulisan ini adalah pendapat pribadi.
http://www.beritaiptek.com 

IPTEK

IPTEK
perkembangan iptek